Minggu, 21 Juli 2013

Alien Class

Akhirnya selesai sudah 2 semester ini ku jalani bersama dengan teman teman 2A. Ya, Alien Class. Kalo ku ingat rasanya baru kemarin aku mengenal mereka. Canda, tawa, tangis, haru, rasanya semua baru ku rasa. Ahh! Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa apa yang baru saja terjadi cepatlah jadi masa lalu. Masa yang mungkin hanya bisa dikenang, masa yang mungkin akan jadi rindu yang abadi.

Yahh,,aku sadar kehidupan akan tetaplah selalu seperti ini. Yang mana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Memang, ini bukanlah sebuah perpisahan akhir. Aku sadar kita masih akan sering bertemu karena kita masih dalam satu kampus yang sama. Kita masih dalam suatu wadah perjuangan yang sama. Tapi percayalah, waktumu, sibukmu, dan teman barumu nanti, pasti akan menggantikan posisiku dalam lukisan kehidupanmu. Aku tau, itu semua bukan karena kamu yang menginginkannya. Tapi memang seperti itulah yang bakal terjadi.

Kini, tiba saatnya kita mengakhiri waktu yang selalu kita pakai bersama. Saatnya kita harus melepas kebersamaan kita 2 semester ini.

Tapi satu hal, aku tak akan melupakan apa yang pernah terjadi padaku saat bersamamu. Mungkin aku bahas aja apa yang mungkin paling teringat.

Mulai dari ketika kita semester 3, dimana aku menjadi koor PJ (penanggung jawab) matkul Praktikum Metode Penarikan Contoh I dengan dosen ibu Atik. Sampai disini mungkin kalian udah pada ingat. Ya! Saat itu ibuknya marah abis abisan gara gara aku bolak balik pindahin ruangan tanpa seijin beliau. Aku masih ingat persis apa yang terjadi saat itu. Mulai dari ekspresi ibuknya ketika marah, sampai ekspresi kalian pada saat itu. Terlihat  antara ekspresi takut sama ibuknya dan ekspresi ngetawain aku. Kayaknya sih. Kekeke

Lanjut, ketika kita sedang belajar matkul Metode Statistik II dengan dosen pakde yulianto. Tau lah ya hoby aku yang sering datang kuliah telat. Yang mana sungguh sangat konsisten aku lakukan. Ketika itu, aku datang kuliah telat saat pakde udah hadir di dalam kelas. Yaa,,biasalah beliau akan memberi punishment bicara dengan menggunakan bahasa inggris pada mahasiswanya yang datang terlambat. Tentu diantara kalian masih banyak yang ingat lah ya, gimana aku mencari cari alasan yang tepat dengan menggunakan bahasa inggris sesuai yang diperintahkan. Hmm,,seperti itulah.

Kemudian lagi (masih pakde), diamana aku yang tiba tiba ditunjuk suruh mengerjakan soal di depan. Padahal yang ku ingat, sebelumnya terakhir beliau bilang soal itu gak usah kita kerjakan. Yaudah saat itu aku asik ngerjain soal yang lain. Eh, tiba tiba pakde panggil namaku suruh kerja soal yang katanya gak usah dikerjakan. Okelah, gak apa apa. Tapi coba kalian ingat kata kata apa yang muncul dari pakde’s lips kepadaku. Sakiiiitttt !! hiks T.T

Padahal bukan cuman itu, sebelumnya pun beliau juga pernah nyuruh aku ke depan, daaann..ya begitulah. Mungkin kita gak usah lah ya buka buka luka lama. Cukup sekali aja. Lumayan suatu saat bisa jadi opsi dongeng buat anak cucu ku sebelum mereka tidur.
Oke, itu tadi beberapa luka lama yang aku sendiri juga bingung harus anggep ini cerita lucu, horor, romantis, atau apa. Mungkin bisa dijadikan inspirasi. #halah

Back to topic

Sebelum kalian jadikan aku sebagai masa lalu, mungkin gak afdhol rasanya kalo aku gak minta maaf terlebih dahulu.

Aku, Pangeran Statistisi (kikikik :D), dengan segala kerendahan hati minta maaf sama teman teman yang mungkin selama kita bersama ada luka yang mungkin telah aku buat. Entah itu dari perkataanku, perbuatanku, tingkah laku ku, semuanya. Semoga kalian berkenan memberikan maaf  padaku. Begitu juga aku yang tentu bakal memafkan kalian kalo memang selama ini ada salah ke aku :))

Aku pasti akan merindukan saat saat bersama kalian. Dengan sohib sohib ku 3 idiot, Ariyan, Febry, dan kalian semua teman teman penghuni Alien Class. Ada si jaim Fahmi, si centil Razy, si galau Silmia, si subur Suci, bahkan sampai miss statistician Theresa. *capek nyebutin satu2*

Sukses buat kita semua. Semoga kita bisa raih mimpi kita, harapan kita, dan tak ada satu pun penghalang dalam setiap langkah kita. Aamiin.

Sampai ketemu lagi dipuncak kesuksesan kita masing masing.

Pangeran Statistisi :))

Sabtu, 20 Juli 2013

Drop Out karena IP 4,00

Banyak dari sekian mahasiswa mendewakan yang namanya nilai. Dalam urusan belajar, mungkin tak sebesar seperti keinginan mereka memperoleh nilai tinggi. Bisa dibilang, belajar minimal hasil maksimal. Itu adalah motto andalan kebanyakan mahasiswa sekarang.

Yaa,,itu tadi adalah beberapa mahasiswa dari sampel yang didapat. Tapi bukan berarti semua mahasiswa kaya gitu loh. Ternyata banyak juga yang bener bener belajar demi bisa mendapatkan nilai yang mereka idamkan. Bahkan tidak sedikit diantara mereka merelakan masa mudanya untuk bergaul dengan tumpukan buku tiap harinya. Alhasil, mereka pandai tapi sosial kurang. Hmm,,itu udah jadi konsekwensi mereka demi secuil nilai.

Tapi faktanya, kenyataan dilapangan tidak berpihak pada mereka, si rajin. Namun keberuntungan justru berpihak pada si malas. Apa yang terjadi?

Dan jawabannya adalah faktor dosen. Ya! Faktanya, dosen memang selalu jadi momok sang penentu nasib mahasiswanya. Mau mereka belajar seperti apa, belum tentu yang jarang belajar itu nilainya lebih rendah dari mereka. Bahkan bukan tidak mungkin yang belajarnya mati matian justru nilainya lebih rendah dari mahasiswa yang jarang belajar. Itulah yang sedang terjadi. .

Seperti kisah Gerard misalnya.

Gerard adalah salah satu mahasiswa ikatan dinas. Diantara teman kuliahnya, ia adalah mahasiswa paling malas dikampusnya. Jelas saja, terlihat dari betapa sering ia terlambat masuk kuliah, tidak pernah kerja tugas sendiri dan memang ia sangat jarang belajar. Hal itu ia sengaja karena prinsip dia satu, "yang penting lulus!!"
Sehingga tak pernah tampak sedikitpun semangat belajar dari dirinya. Beruntungnya, ia selalu mendapatkan dosen yang enak ngasih nilainya. Entah karena sang dosen malas periksa berkas ujian, atau memang sang dosen yang suka ngasih nilai cuma cuma untuk mahasiswanya. Hal itu membuat Gerard selalu lulus dan mendapatkan nilai yang gak beda jauh dari teman temannya. Pada semester berikutnya, lagi lagi ia mendapatkan dosen dosen dermawan nilai. Hal itu membuatnya semakin malas untuk belajar dan berperilaku seperti sebelum sebelumnya. Hingga sampailah saat saat mereka mengikuti ujian semester. Walaupun ia yakin dosennya bakal ngasih nilai baik, tapi kali ini ia sedikit merasa khawatir dengan hasil kerja ujiannya. Gimana gak khawatir, tiap hari ia gak pernah belajar dan waktu ngerjain tak satupun yang bisa ia kerjakan.

Hfyuuhh,,dan akhirnya tibalah waktunya pengumuman nilai. Saat itu terlihat wajah wajah khawatir tampak memenuhi ruangan kelas. Mulai dari yang pinter, yang rajin, sampai yang malesan. Semuanya punya rasa yang sama, khawatir. Setelah lama menahan rasa penasaran, akhirnya sang dosen mengumumkan IP mahasiswanya satu per satu. Dan terlihat, salah satu mahasiswa yang dikenal pinter mendapatkan IP 3,62. Semakin kencang rasanya suara detak jantung Gerard saat itu. Tak lama setelah itu, tiba tiba sang dosen memanggil Gerard seperti ini, "Gerard,,maaf bapak tidak bisa membantu banyak." Setelah mendengar pernyataan itu, tanpa bicara sedikitpun ia pun menangis. Kemudian sang dosen pun melanjutkan pernyataannya, "hahahaa,,selamat Gerard, kamu mendapatkan IP 4,00. Sekaligus IP tertinggi dikampus ini."
Setelah mendengar kata itu, bukan hanya Gerard, tapi semua pun ikut terkejut mendengarnya. Akhirnya mereka pun lulus semua tanpa ada yang harus Drop Out satupun.

Namun sejak saat itu, Gerard justru terlihat sering murung. Ia berfikir, pantaskah ia mendapatkan nilai itu? Hal itu justru membuat ia semakin terbebani. Pantas saja, ia adalah orang yang malas, gak pernah belajar, tapi kini ia justru mendapatkan IP tertinggi. Dan pikiran itu selalu menghantui dia sejak saat itu, sejak pertama ia melihat nilai. Akhirnya mental ia pun mulai kacau. Konsentrasinya hilang, dan selalu murung. Sehingga akhirnya ia harus mengalami gangguan jiwa akibat hal itu.
Pihak kampuspun dengan tegas akan peraturannya bahwa tidak menerima dari mahasiswanya yang didapati mengalami gangguan jiwa. Akhirnya dengan terpaksa ia harus Drop Out.

Seperti itulah kisah Gerard pada masa kuliahnya. Orang lain biasa Drop Out karena IP kurang, atau tidak bisa mengikuti mata kuliah yang diberikan. Tapi berbeda dengannya. Ia harus Drop Out karena mendapatkan nilai tertinggi, IP 4,00.

Lantas jika seperti ini, Siapa yang harus disalahkan??

Sabtu, 11 Mei 2013

SPID



Hidup ini ternyata sangat keras. Ya! Sangat keras, bahkan lebih keras dari apa yang tak pernah terpikir olehku. Mungkin setiap orang akan bertanya-tanya kenapa aku melontarkan statement itu seenak jidatku. Tapi aku tak peduli apa kata mereka. Karena aku yakin mereka akan memihak ku jika mereka tau apa yang tersembunyi dibalik kata-kata yang sempat terucap olehku.
 
Hfyuuuhhh...lelah rasanya ketika ternyata aku pun terjebak dalam mimpi yang gelap. Mimpi yang awalnya punya janji, ternyata hanya menjadi sebuah rayuan gombal yang terlupakan. Mungkin ini lah baru yang namanya hidup. Semua tak semanis daun pepaya. Awalnya, aku hanya seorang anak kampung yang punya mimpi yang besar. Mimpi yang indah, dimana memang tak semua orang punya mimpi yang sama. Hingga tiba saatnya aku percaya padamu. Tanpa berfikir panjang, ku letakkan semua mimpiku dihadapanmu. Ku relakan semuanya mengalir bersama sederet peraturanmu. Tapi apa balasanmu?? Apa yang kau berikan?? Bahkan kau hampir menghancurkan separuh dari mimpiku!!

Sampai sekarang aku masih tak mengerti. Aku tetap belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Yang ku tau, kertas ini hanyalah sebuah kertas biasa yang tak tau berapa harganya. Bahkan aku pun tak yakin kertas ini masih ada harganya. Dimana kau tulis permainanmu, kau buat rekayasa dengan tulisan cantikmu. Kini terlihat semakin jelas bahwa permainan kata yang kau buat, itu semakin menyakitkan.

Memang, aku tak bisa menyalahkanmu. Ini hanya karena kecerobohanku yang tak memahami betul sebuah arti, yang terlalu mudah mempercayaimu. Dan ku akui kau memang lebih pengalaman. Ya, tentu pengalaman dalam memanipulasi kata.

Pertama, kau ambil hak kami. Kau ambil harapan kami yang paling besar. Sesuatu yang seharusnya bakal langsung kami dapat, kini kami harus kembali bersusah payah menjadi bagian dari orang-orang yang tentu saja mereka juga akan berupaya keras untuk mendapatkannya. Bukan karena kami takut kalah, kami hanyalah seorang yang menginginkan hak kami yang sudah seharusnya kami dapat. Hak yang seharusnya kami peroleh setelah selesai melaksanakan salah satu kewajiban kami. Ya, tentu dengan peraturan-peraturanmu. Mungkin terlalu munafik jika aku mengatakan disini sangatlah nyaman. Karena faktanya, kau pun buat jantung kami sering berdetak tak karuan. Jadi tolong, berikan hak kamiii !!

Kedua, kau mulai menunda-nunda pendapatan kami. Bahkan ini pun belum jelas antara kau tunda atau kau hapus? Apa kau tak pernah berfikir tentang kami? Apa kau mengharap dari kami mengemis-ngemis kelaparan? Heeiiy..itu juga hak kamii buung !! Jangan kau buat kami semakin terperosok dalam. Tak ada salahnya jika kau mengindahkan kami, kau hargai kami dan kami pun akan menghargaimu.

Aku pun tak paham apakah ini yang terakhir. Atau mungkin baru awal? Tentu aku berharap ini adalah yang terakhir, yang mungkin tak ada yang tau bakal ada hati yang terketuk dan berkenan untuk memberikan semua hak kami.

Dan tentu, aku pun berharap setelah ini apa yang seharusnya cair segera kau cairkan.

Salam hormat dari kami, penuntut hak dan keadilan.

Sekian.

Sabtu, 23 Maret 2013

Teman Curhat


Gue selalu berpegangan pada kata bijak ini, “kalo kita pengen dihargai orang lain, maka kita harus bisa belajar menghargai orang lain.” Artinya kalo kita berbuat baik sama orang lain, maka orang lain pasti juga akan baik juga sama kita. Yah, bisa dibilang juga kalo mereka itu kita anggap maka kita juga bakalan dianggap juga sama mereka.  Nah yang mau gue ceritain disini ada hubungannya sama yang namanya harga-menghargai. Cerita ini berasal dari kisah hidup gue sendiri. Kalo misal ada yang dikurangi atau dilebihin maaf lah ya, namanya juga biar tulisan gue ini agak panjangan.
Sebenernya kalo dipilih, ditimbang dan diamati cerita gue ini gak nyambung sama apa yang gue tulis di atas barusan. Maaf gue cuman pengen terlihat bijaksana aja.

Sebelumnya kayaknya gue perlu mendramatisir dulu cerita gue sama cewek gue. Jadi baru beberapa bulan ini gue jadian sama cewek gue ini. Memang, pendekatan kami bisa dibilang sangat singkat. Hanya dalam hitungan hari status hubungan di facebook kami masing-masing berubah dari yang sebelumnya lajang menjadi berpacaran. Harapan gue sih bener-bener pengen yang terbaik buat kedepannya. Jadi gak cuman main main doang.

Tapii...
Cewek gue ini punya kekurangan yang sering bikin gue makan hati sebenernya. Yah, semua orang tentu punya kekurangan lah ya. Kalo pengen yang sempurna tanpa cacat nyari dimana? Harganya mahal kali yaa? Ah, emang souvenir.

Jadi dia itu kadang masih kaya gak nganggap kalo gue ada. Yah mungkin karena dia udah terbiasa sendiri kali ya, tanpa ada yang komplain tentang apapun yang bakalan dia lakuin. Entah gue jadi yang nomor 2, atau kadang dia tiba-tiba marah. Sumpah gampang banget marah. Parahnya lagi pas gue marah, eh dia malah ikutan marah. Jadi gue malah bingung sendiri waktu itu siapa yang seharusnya marah? Ibaratnya nih ya, kalo gue lagi kebakaran, dia bukannya cepet-cepet lari bawain air, tapi malah dia bawa bensin ikutan bakar gue. Paraaahhh...!!

Bukan gimana, gue ini dari kecil paling anti yang namanya direndahin, disepelein, pokoknya intinya gimanapun gue pengen dihargai. Ada seorangpun yang coba gak hargain gue, ya gue bakalan berontak. Mau dia orang tua, muda, tinggi, pendek, gedhe, kecil, kaya, miskin, cakep, ataupun orang yang punya kedudukan tinggi sekalipun gue pasti gak akan tinggal diem. Minimal hati gue pasti mangkel. Kalo ada yang gak tau artinya mangkel, coba kalian cari dikamus.

Pernah ada temen sekolah gue yang sok kuasa, dia pengen menangan sendiri dan suka nyuruh-nyuruh orang semau kepala dia. Dan sialnya gue terpilih jadi orang yang pengen dia suruh-suruh. Tapi ya karena gue itu gak mau di injek-injek, pengennya dihargain ya gue nolak. Emang dia bokap gue nyuruh-nyuruh seenak jidatnya? Karena dia emang preman sekolahan ya jadinya gue ditantang deh. Tapi walopun badan gue kecil, emang gue takut? Yah terpaka gue ladenin deh. Untung gue pernah ikut latihan bela diri. Akakakak

Jadi begitulah betapa gue gak suka sama orang yang gak hargain gue. Ya kalo gue salah maap, karena mau gimana gue emang kaya gitu orangnya.

Tapi bukan berarti itu jadi alasan ya. Sejauh ini gimana pun sikap cewek gue, gue masih tetep sayang banget sama dia. Karena dari awal gue emang gak pernah main-main. Dan apapun kata orang tentang dia, gue gak peduli. Ya semoga usaha dan harapan gue gak bakalan sia-sia nantinya. Amin.

Oke, kalo bicara lagu nih ya, yang barusan gue tulis di atas adalah intronya.
Sebenernya gue pengen cerita tentang obrolan gue sama salah satu temen gue namanya Ariel. Yah, kami udah kenal cukup lama, dan saat itu kami sedang dipertemukan dalam waktu dan tempat yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Memang cukup lebay.

“gimana, kuliah di Jakarta udah dapet cewek dong ya?” tanya temen gue sambil bercanda.
Gue juga gak tau kenapa, kok temen gue mengawali obrolan kami dengan pertanyaan seperti itu. Padahal masih banyak pertanyaan lain yang bisa buat mengawali obrolan kan ya? Tanya apa kabar kek, atau apa. Tapi it’s okay lah ya..

Dengan bangga gue jawab, “udaahh doong..”
Emang sih itu bukan sesuatu yang harusnya dibanggain, tapi gue sama temen gue ini udah terlanjur akrab dan sama-sama gak mau ngalah. Biasalah anak muda jaman sekarang..

Hmm,,ternyata oh ternyata pertanyaan dia soal cewek gue gak berhenti sampai disitu aja, malahan dia makin nerocos tanya macem-macem soal cewek gue. Udah kaya selebritis dikejar-kejar wartawan aja gue pokoknya.

“cantik gak dia orangnya?” tanya temen gue kepo.

“ya jelas cantik lah, orang gue nya aja ganteng gini” jawab gue spontan.

“cewek gue yang ini gak cuman cantik loh, dia orangnya baik, pinter, ceria, pokoknya super banget lah.” tambah gue sebelum dia tanya macem-macem. Gimanapun gue bakal selalu belain cewek gue dong. Gue juga bakal ceritain yang baik-baiknya aja soal dia. Yah, gue berharap semoga aja temen gue ini gak nanyain sikap cewek gue yang paling gak gue demen yang udah gue bahas tadi. Dalam hati berdoa demikian.

“kampreett!! Beruntung banget lo! Yaudah gue ikut seneng, moga langgeng aja lah yaa..hehe” jawabnya sambil mukul lengan gue.

“haha,,iya dong gue. Lo sendiri gimana, masih sama si Luna?” tanya gue ganti ke dia.

“emmm,,udah enggak nih cuy” jawabnya sedih.

“loh, kenapaaaaa???? Perasaan dulu kalian baik-baik aja.” Tanya gue sambil maksa dia buat jelasin apa yang udah terjadi. Emang kepo banget sih gue saat itu. Tapi yaiyalah, prihatin juga sama temen gue yang satu ini. Perasaan hubungan dia sama ceweknya dulu adem ayem, udah lama lagi, tapi sekarang udah putus gitu aja..kasian

“ya gitu deh pokoknya, ceritanya panjang banget men.” Dia keliatan males banget buat cerita.

“gitu gimana? Masa lu gak mau cerita sama gue? Kali aja gue bisa bantu kan?” jawab gue sambil terus maksa dia buat cerita.

“yah gitu deh, si Luna orangnya sih sama kaya cewek lo itu. Dia itu baik, pinter, ceria, pokoknya juga super banget lah. Tapi sayangnya satu, dia itu gak bisa hargain gue. Masa gue selalu jadi nomor 2. Dia masih milih inilah, itulah, pokoknya gue itu bukan yang utama. Gue ngrasa dia kaya gak peduli kalo misal gue bakalan pergi dari dia. Gue kaya udah gak penting.” Cerita temen gue panjang.

Hah, gila pas banget nih. Kenapa bisa sama banget sama yang gue rasain selama ini yak? Mungkin lagi jamannya kaya gitu kali ya? Yauda ah, bukan saatnya mikirin masalah gue. Yang seharusnya gue lakuin adalah hibur temen gue.

“jadi cuman gara-gara itu? Siapa tau lu cuman salah paham kan? Lagian kalo pun emang bener kaya gitu ya lo omongin lah sama dia nya. Gimana pun manusia juga gak ada yang sempurna kan? Kalo ntar kamu punya yang baru pasti dia juga bakal punya kekurangan kok. Percaya sama gue.” jawab gue usaha hibur dia. Saat itu emang gue ngrasa kaya jadi pak mario teguh. Biarin lah, sekali sekali jadi orang bijak. Walopun cuman bisa ngasih tau orang.

“iya sih, thanks ya sarannya? Lu emang sahabat gue men.” Jawab temen gue sambil senyum.

“iya, sama-sama. Kaya sama siapa aja. Makanya cerita-cerita dong sama gue” jawab gue sambil usaha mencairkan  suasana.

“hahaha,,iya iyaa, lagian kita juga jarang ketemu ini kan.” Saut temen gue.

“jaman sekarang udah canggih, ngobrol gak harus ketemu coy!” jawab gue sok gaul.

“wakakak,,iya iya bawel banget lu kaya nenek-nenek hamil. Gini nih kalo udah punya cewek. Bahagia banget kayaknyaa..jadi ngiri gue.” Cletos temen gue.

“hahahahahaaa....” jawab gue dengan ketawa lepas.

Selesai gue ketawa, tiba-tiba temen gue tanya lagi.

“oh iya, cewekmu gimana? pasti lu gak pernah ngrasa dinomor dua-in kaya gue dong ya?”

Mampus!!

Kamis, 14 Maret 2013

Arti Sebuah Perhatian

Setiap orang punya cara sendiri untuk memberikan suatu perhatian. Sehingga banyak orang yang merasa kesulitan dalam mengartikan perhatian itu. Tidak sedikit diantaranya sering salah arti. Ada yang mengartikan dengan hatinya, bahkan ada juga yang mengartikan dengan egonya. Memang hak masing masing bagaimana kita mengartikannya. Tapi apa kita pernah memikirkan dampak yang terjadi akibat kita salah mengartikan?

Dalam hidup ini tak jarang kita mempunyai masalah yang berat. Kondisi dimana kita benar benar butuh orang lain untuk mensuport kita. Saat itu lah masa masa kita sangat mudah merasakan  yang namanya perhatian. Saat itu pula sangat rentan kita dalam melakukan kesalahan besar, dimana kita salah mengartikan perhatian yang kita rasakan. Awalnya memang indah nan menyenangkan, tapi apa yang akan terjadi selanjutnya? Sempatkah terpikir saat itu?

Sebaiknya kita mulai berbenah diri. Sifat orang berbeda beda. Tentu setiap orang punya maksud dan tujuan tertentu ketika memberikan suatu perhatian lebih. Entah itu positif, atau sebaliknya. Karena itu hendaklah kita bisa menjaga diri, mengatur dan mengontrol tingkat ke-PD-an dan ke-GR-an kita. Tidak semua kenyamanan itu akan terus menjadi kenyamanan. Hati hati.

Bukan maksud untuk selalu beranggapan jelek, selalu berprasangka buruk kepada orang lain. Tapi hanya supaya lebih berhati hati dan tidak mudah terbawa dengan kenyamanan yang bersifat sementara. Karena tidak jarang kenyamanan itu akan berakhir malapetaka pada diri kita sendiri. Ingat!! Penyesalan itu datangnya selalu dibelakang. Dan sekali menyesal, hal itu akan terus menghantui.

Kita adalah pribadi yang baik. Mari kita berikan perhatian kita pada orang yang benar benar membutuhkan. Kepada orang yang benar benar pantas mendapatkan perhatian dari kita.

Perhatian merupakan suatu bentuk kehormatan. Maka, berikanlah ia sebagai bentuk hormatmu kepadanya. Karena hormat berarti menghargai, dan menghargai berarti peduli. Maka apabila kita peduli, berikan yang terbaik bukan untuk merugikan.


Selasa, 12 Maret 2013

Bahagia itu sederhana ( KAU + AKU = KUA )



Bicara soal hidup mungkin gak bakal ada habisnya.
Hidup bagai sebuah obat nyamuk yang dibakar dan berjalan habis melingkar menuju sebuah titik. Berawal dari ujung yang jelas, dan memiliki ujung akhir yang jelas pula. Namun dalam berjalannya api menuju ujung akhir itu, tentu ada sebuah takdir yang tak seorangpun tau. Dimana takdir dapat menghentikan laju api kapan pun ia mau, kapan pun ia suka, sebelum sampai diujung akhir yang dituju.

Tidak sedikit dari kita mempunyai cita cita yang jelas. Punya angan yang indah, meskipun sangat sederhana. Namun kita sama tau, untuk mencapainya tak semudah membalikkan telapak tangan. Dimana kita bisa melakukannya secepat kedipan mata.
Dan  satu hal yang tentu kita juga sama tau, bahwa dalam hidup ini terdapat ruang yang sangat luas, dimana ada suka, duka, kecewa, benci, bangga, bahagia, ataupun merana. Semua seperti berada dalam satu wadah, dalam ruang yang sama, dan dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu yang jelas. Oleh karenanya, kita perlu belajar bagaimana menata sikap, bagaimana supaya kita tidak salah dalam menyikapinya ketika satu diantaranya terjadi pada diri kita.

Jika dihitung berapa lama aku hidup di dunia ini seharusnya waktu itu sudah lebih dari cukup untuk ku memahami pahit manisnya kehidupan. Namun nyatanya gak seperti itu. Masih aja aku butuh waktu lebih lama untuk mengerti, memahami dan menyikapi hidup ini. Dalam pikir ku, selalu saja menganggap semua itu rumit. Semua itu gak gampang, dan semua orang punya takdir masing masing yang gak sama. Karena itu lah, yang membuat hidup ini kurang mengerti akan arti kebahagiaan.

Tapi sekarang berbeda. Aku mulai belajar, dan aku mulai mengerti apa arti hidup ini. Ternyata tidak semua hal itu rumit. Bahkan hal yang rumit pun sebenernya tidak serumit yang dikatakan. Dan yang paling penting, mindset harus dirubah bahwa sebenernya, bahagia itu sederhana. Sederhana jika kita selalu berkata cukup dan tidak selalu mencari suatu kesempurnaan.

Pada dasarnya sifat manusia memang terus merasa kurang dan tidak pernah merasa cukup. Karena itu, hidup itu sederhana. Hanya dengan kata cukup semua selesai. Hanya dengan kata cukup, kita bahagia. Sangat sederhana.

Begitu juga dengan ku, mencintaimu merupakan suatu kebahagiaan. Dan memilikimu merupakan suatu impian nyata untukku menuju kebahagiaan. Sangat sederhana.

Aku sadar kita sama punya kekurangan, tapi kita harus tau masih ada nilai lebih dibalik kekurangan itu. Terkadang, kekurangan itu memang terlihat amat lah jelas. Tapi ketika kita melihat kelebihan disekelilingnya, kekurangan itu akan memudar dan hilang. Seperti setetes tinta hitam yang diteteskan pada sebuah air. Awalnya tinta itu amatlah jelas mencolok di atas permukaan air. Namun lambat laun tinta itu akan mulai menyebar, memudar, dan tertutupi oleh kejernihan air. Dengan seperti itu lah kita perlu menyikapinya.

Karena itu, aku menginginkan kebahagiaan yang sederhana. Tanpa mencari kesempurnaan dengan terlalu sibuk mencari cari kekurangan pada dirimu.

KAU adalah bahagiaku. Dan jika AKU adalah bahagiamu, maka KUA adalah bahagia kita.

Selasa, 15 Januari 2013

2013

Jaman mulai berubah. Ada yang condong semakin ke arah yang baik, ada pula yang condong ke arah yang buruk. Tapi tanpa gue adain sensus buat ngitung banyakan mana diantara keduanya, gue udah yakin banyakan yang condong ke arah yang buruk. Yaiyalah menn, makin kesini itu jaman makin rusak. Makin gak ada yang benerr!!

Kalo kita tengok tahun lalu, tentu kita udah geleng geleng kepala liat kejadian kejadian yang muncul. Kejadian kejadian yang udah sering terjadi. Mulai dari ulah manusia yang begitu mencengangkan, sampai bencana Allah yang begitu dahsyat luar biasa. Kalo kita mau berpikir, seharusnya kita sadar apa maksud dari bencana bencana itu. Allah tidak mungkin melakukannya semata hanya memberikan penderitaan, kesedihan, ataupun luka yang mendalam pada umat umatnya. Maka anggaplah itu sebagai peringatan peringatan kecil dari Allah untuk kita. Kenapa gue bilang kecil ? Karena itu emang sungguh amat kecil bagi Allah. Jangankan tsunami, neneknya tsunami pun mudah. Bukan maksud gue buat bercanda, tapi maksud gue yang jauh lebih dahsyat dari tsunami pun itu mudah. gitu broo..

Nah, kalo kita udah bisa anggap itu semua peringatan buat kita, Yuk sama sama kita berubah. Ya setidaknya jangan lakuin hal hal yang bikin Allah marah lah :)
Kita gak usah mikir muluk muluk. Kita lakuin dulu hal hal dari yang paling kecil. Hal hal yang biasa kita remehkan. Karena batu pun kalo tertetes air, lambat laun juga akan keropos. Coba kita pikir, tetesan air yang biasa kita remehkan, itu bisa membuat batu keropos. Bahkan hancur. Begitu juga kita, akan hancur walaupun hanya karena hal hal yang sepele, hal hal yang sering kita remehkan.
Contoh simple ajalah, pernahkah kita bersyukur atas nikmat-Nya?? Ya mungkin emang pernah, tapi jumlah syukur kita apa udah sebanding ama seberapa banyak nikmat yang dikasih ke kita?? Oke, kita emang gak mungkin bisa sebanding, tapi paling gak kita bisa mendekatinya. Nikmat Allah itu amat banyak, kita punya mata. Mata ini manfaatnya luar biasa. Kita bisa melakukan begitu banyak hal dengan mata ini. Kemudian kita punya hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, dan banyak lagi. Itu baru sebagian kecil saja, masih banyak nikmat nikmat yang tidak akan mungkin kita sanggup menghitungnya. Karena Allah memberikan nikmat ini bukan untuk dihitung tapi untuk disyukuri. Termasuk disitu sehat. Kita diberi sehat oleh Allah, ini merupakan suatu nikmat. Dimana kita sangat jarang dan jarang mensyukurinya. Padahal dengan sehat ini, kita bisa melakukan segalanya. Kita bisa merasakan sesuatu itu enak. Coba kalo kita sakit, semua bakal terasa gak enakkk.
Gue beberapa hari ini sakit, pusing, meriang, mual, semua jadi satu. Sampai sampai disitu gue muntah muntah, badan jadi lemes semua. Jangankan jalan, dudukpun terasa gak sanggup waktu itu. Dengan kaya gitu, gue bener bener ngrasain betapa nikmatnya sehat itu. Jadi selagi kita dikasih sehat, syukuri lah. Gunain sehat kita ini untuk hal hal yang baik. Jadi kalo mau berbuat baik gak usah nunggu nunggu kabar mau kiamat. Kalo denger kabar mau kiamat terus ibadahnya rajin, banyak berbuat amal. Trus kalo ternyata gak jadi kiamat ibadahnya kendor lagi, amalannya ilang lagi. Kalo lo nunggu kiamat masih lama men. Emang sih, tanda tandanya sebagian udah mulai keliatan, tapi itu baru sebagian. Masih banyak tanda tanda kiamat yang belom keliatan. Tapi ya tetep sih, semua itu Allah yang ngatur, dan kita gak akan mungkin tau kapan itu akan terjadi. Inget ya, gak akan mungkin. Jadi ga usah lo tungguin, ga usah lo inget inget tuh kiamat. Inget inget aja kapan lo bakalan mati. Karna sesuatu yang paling deket sama kita ya mati itu sendiri. Emang, kita juga gak kan pernah tau kapan kita mati. Tapi yang namanya mati itu datangnya sewaktu waktu. Bahkan bisa aja gue abis ngetik ini trus tiba tiba mati, dan kita gak ada yang pernah tau. Jadi ya inilah yang seharusnya kita jadiin patokan untuk berbuat baik. Bukan malah nunggu kiamat -___-

Oke,,itu sedikit apa yang ada dipikiran gue mengenai 2013. Kalo dari awal kita udah tau semua bakal makin buruk, setidaknya kita udah siapin tameng untuk jaga diri kita masing masing. Gue gak kan berdoa semoga tahun ini lebih baik, karna itu gak mungkin. Tapi gue bakal berdoa semoga kita lah yang akan jauh lebih baik :)

mangaaattt !!!