Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2015

Sepucuk Surat Untukmu

Malam mulai larut,
bayang semu melengkapi lamunanku malam ini.
Tak ada lagi rasa yang mampu ku pendam.
Tak ada lagi kata yang mampu ku tanam.

Pikirku, semua tentang kamu.
Tentang rasa yang selama ini ku pendam dalam memori waktu.
Aku tak tahu betapa peliknya hidup ini,
betapa rumitnya kenyataan ini.

Aku tak paham.
Aku tak mengerti kenapa engkau dihadirkan untukku.
Kenapa harus engkau yang dipaksa untuk mengenalku.

Padahal,
sekalipun aku tak pernah menyebut namamu dalam doaku.

Lantas, kenapa engkau datang??

Aku tak berani.
Bukan kuasaku untuk menyebutmu sebagai jodoh yang dikirimkan untukku.

Tapi,
Kini aku mulai sadar.
Sadar akan rasa yang sebenarnya telah lama aku kenal.

Ketika kau jauh, hati ini menjerit.
Ketika kau acuh, diri ini menangis.

Tak ada lagi kata yang pantas.
Kau mutiara relung hatiku.

Rasanya, aku tak sabar menunggu saat itu.
Saat ketika aku meminta pada orang tuamu.
Saat ketika aku merebutmu dari pelukan ayahmu.

Aku tak tahu betapa hancurnya perasaan ayah dan ibumu saat itu.
Putri yang susah payah mereka besarkan harus ku ambil begitu saja.

Tapi satu janji yang akan ku katakan pada mereka.

"Pak, Buk, aku akan menjaga putrimu sebagaimana kau pertaruhkan nyawamu untuknya."

Semoga kata itu sedikit melegakan hati mereka yang kian sesak mendengarkan permintaanku.

Aku harap kamu bisa menerimaku apa adanya.

Dan,
Menjadi ibu dari anak-anakku.

                   ***

Selasa, 03 Desember 2013

Pemimpin = Orang Tua


Pantaskah ??
Pemimpin. .

Aku rasa tidak semua orang paham dengan istilah itu. Tapi memang,  semua itu butuh definisi yang jelas. Seperti BPS (Badan Pusat Statistik) yang selalu membuat definisi sebagai batasan-batasan yang jelas dan bisa diterima oleh semua kalangan.

Menurutku pemimpin itu adalah orang tua. Sehingga untuk menjadi pemimpin haruslah mempunyai sifat yang benar-benar ingin mengabdi. Sifat yang benar-benar tulus tanpa mengharapkan balasan.

Kesuksesan seorang pemimpin tidak tergantung dengan terlaksana tidaknya visi misi nya, namun tergantung pada tingkat kepuasan orang-orang yang sedang dipimpinnya. Dimana orang-orang tentu akan merasa puas ketika mereka benar-benar merasakan keberadaan seorang pemimpin. Orang yang benar-benar mampu mengayomi, dan mampu memperjuangkan sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi hak mereka.

Semua orang tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang baik butuh yang namanya peraturan. Dimana masyarakat yang dipimpin harus melaksanakan hal-hal yang menjadi kewajiban mereka.

Nah, inilah alasannya.

Terkadang seorang pemimpin ingin mengejar nama baiknya. Dimana ia akan mengejar keberhasilan dengan menggunakan berbagai peraturan-peraturan yang akan menciptakan kewajiban baru pada masyarakatnya. Sayangnya, ia melupakan hak-hak masyarakat yang harus ia penuhi.

Memang, semua visi misi nya berjalan. Semua program kerjanya terlaksana. Namun ia bukan lah seorang pemimpin. Ia tidak lebih dari seorang yang ingin menjalankan progam kerja nya dengan menyiksa masyarakatnya sendiri, orang yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

Harusnya ia lebih fokus dengan masyarakatnya, orang-orang yang ia pimpin. Bukan malah lebih fokus dengan program semata. Padahal apabila masyarakat merasa diperhatikan, merasa dibahagiakan, mereka akan dengan senang hati membantu melancarkan program yang telah direncanakan. Alhasil, semua akan berjalan balance. Program berjalan, masyarakat senang.

Aku sempat berfikir pemimpin itu tidak perlu diberikan gaji yang besar, fasilitas yang mewah. Cukup dengan bentuk penghormatan sebagai seorang pemimpin yang akan menjadi orang tua kedua kita.

Sehingga tidak ada lagi seorang yang mengejar posisi pemimpin hanya untuk menambah pundi-pundi kekayaan atau hanya menginginkan sebuah pamor. Dengan demikian, pemimpin yang terpilih adalah seorang yang benar-benar menginginkan perubahan, menginginkan kesejahteraan untuk masyarakatnya.

Bahkan seharusnya seorang pemimpin harus bersedia untuk kehilangan sedikit waktu, tenaga dan pikirannya dengan tujuan memberikan tingkat kepuasan maksimum kepada masyarakatnya tanpa mengharapkan suatu balasan, sebagaimana orang tua.

Sosok yang seperti inilah yang dinamakan seorang pemimpin.

Minggu, 01 September 2013

Roda Kehidupan


Tak bisa dipungkiri lagi rasanya masa itu kini terulang kembali, sebagaimana sebuah roda yang senantiasa bergerak memutar. Roda yang terus bergerak hingga kembali berada tepat di bawah untuk mengulang sebuah masa dimana harus berada pada sebuah titik terberat. Pada suatu posisi dimana ia harus kuat menopang seluruh beban yang berasal dari bagian lainnya. Ini adalah masa tersulit untuk dipahami. Masa dimana kita harus saling mensuport, saling menguatkan, dan saling memahami. Tak banyak yang mampu bertahan, hingga satu demi satu memilih untuk angkat bendera putih mendeklarasikan kekalahannya.

Tak perlu kau jelaskan penderitaanmu, aku cukup mengerti. Sesak yang kau rasakan, akupun merasakan. Tak ada yang bisa kita salahkan. Inilah yang namanya roda kehidupan, sebuah takdir hidup yang telah menunggu kita beribu ribu tahun lamanya.

Ku tau kau lelah, tak banyak yang bisa dilakukan. Memang, perih rasanya harus kembali menopang beban ini. Tapi ku yakin kau kuat, kau bisa. Turunkan benderamu, bertahanlah..ingat lah bahwa roda ini tetaplah bergerak. Mungkin semua ini akan segera berlalu..berdoalah

Aku sendiri tak yakin bisa menguatkanmu, karena aku pun tak bisa menguatkan diriku sendiri. Tapi inilah alasannya. Aku mengajakmu untuk saling menguatkan. Karena aku tak ingin melihat roda ini berhenti ketika aku dalam posisi ini. Aku terlahir melihat dunia ini sangatlah indah. Begitu pun aku ingin melihatnya ketika suatu saat harus menutup mata ini selamanya.

Percayalah..ini adalah cara-Nya untuk mendidik kita. Dia inginkan pembelajaran, supaya kita mengerti hakikat kehidupan yang sebenarnya. Kalau kita ingat, Dia pun telah berjanji tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan kita. Dan pada setiap ujian itu akan selalu disertai dengan kemudahan.

Aku selalu yakin bahwa untuk melewatinya hanya butuh cara yang sangat sederhana. Hingga terbayang suatu saat nanti aku akan tersenyum melihat kesederhanaan itu. Namun saat ini hanya saja kita belum tau cara seperti apa itu. Harus kemana kita berjalan?

Tetaplah bertahan, selalu memohon segala kemudahan dari-Nya. Karena ujian ini berasal dari-Nya dan sudah sepantasnya kita kembalikan kepada-Nya.

Dan kini saatnya kita menunggu saat itu, saat dimana Dia akan mengganti air mata kita dengan kebahagiaan. Karena aku yakin, roda ini akan teruslah berputar hingga kita akan saling berucap syukur atas kebahagiaan.

Minggu, 21 Juli 2013

Alien Class

Akhirnya selesai sudah 2 semester ini ku jalani bersama dengan teman teman 2A. Ya, Alien Class. Kalo ku ingat rasanya baru kemarin aku mengenal mereka. Canda, tawa, tangis, haru, rasanya semua baru ku rasa. Ahh! Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa apa yang baru saja terjadi cepatlah jadi masa lalu. Masa yang mungkin hanya bisa dikenang, masa yang mungkin akan jadi rindu yang abadi.

Yahh,,aku sadar kehidupan akan tetaplah selalu seperti ini. Yang mana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Memang, ini bukanlah sebuah perpisahan akhir. Aku sadar kita masih akan sering bertemu karena kita masih dalam satu kampus yang sama. Kita masih dalam suatu wadah perjuangan yang sama. Tapi percayalah, waktumu, sibukmu, dan teman barumu nanti, pasti akan menggantikan posisiku dalam lukisan kehidupanmu. Aku tau, itu semua bukan karena kamu yang menginginkannya. Tapi memang seperti itulah yang bakal terjadi.

Kini, tiba saatnya kita mengakhiri waktu yang selalu kita pakai bersama. Saatnya kita harus melepas kebersamaan kita 2 semester ini.

Tapi satu hal, aku tak akan melupakan apa yang pernah terjadi padaku saat bersamamu. Mungkin aku bahas aja apa yang mungkin paling teringat.

Mulai dari ketika kita semester 3, dimana aku menjadi koor PJ (penanggung jawab) matkul Praktikum Metode Penarikan Contoh I dengan dosen ibu Atik. Sampai disini mungkin kalian udah pada ingat. Ya! Saat itu ibuknya marah abis abisan gara gara aku bolak balik pindahin ruangan tanpa seijin beliau. Aku masih ingat persis apa yang terjadi saat itu. Mulai dari ekspresi ibuknya ketika marah, sampai ekspresi kalian pada saat itu. Terlihat  antara ekspresi takut sama ibuknya dan ekspresi ngetawain aku. Kayaknya sih. Kekeke

Lanjut, ketika kita sedang belajar matkul Metode Statistik II dengan dosen pakde yulianto. Tau lah ya hoby aku yang sering datang kuliah telat. Yang mana sungguh sangat konsisten aku lakukan. Ketika itu, aku datang kuliah telat saat pakde udah hadir di dalam kelas. Yaa,,biasalah beliau akan memberi punishment bicara dengan menggunakan bahasa inggris pada mahasiswanya yang datang terlambat. Tentu diantara kalian masih banyak yang ingat lah ya, gimana aku mencari cari alasan yang tepat dengan menggunakan bahasa inggris sesuai yang diperintahkan. Hmm,,seperti itulah.

Kemudian lagi (masih pakde), diamana aku yang tiba tiba ditunjuk suruh mengerjakan soal di depan. Padahal yang ku ingat, sebelumnya terakhir beliau bilang soal itu gak usah kita kerjakan. Yaudah saat itu aku asik ngerjain soal yang lain. Eh, tiba tiba pakde panggil namaku suruh kerja soal yang katanya gak usah dikerjakan. Okelah, gak apa apa. Tapi coba kalian ingat kata kata apa yang muncul dari pakde’s lips kepadaku. Sakiiiitttt !! hiks T.T

Padahal bukan cuman itu, sebelumnya pun beliau juga pernah nyuruh aku ke depan, daaann..ya begitulah. Mungkin kita gak usah lah ya buka buka luka lama. Cukup sekali aja. Lumayan suatu saat bisa jadi opsi dongeng buat anak cucu ku sebelum mereka tidur.
Oke, itu tadi beberapa luka lama yang aku sendiri juga bingung harus anggep ini cerita lucu, horor, romantis, atau apa. Mungkin bisa dijadikan inspirasi. #halah

Back to topic

Sebelum kalian jadikan aku sebagai masa lalu, mungkin gak afdhol rasanya kalo aku gak minta maaf terlebih dahulu.

Aku, Pangeran Statistisi (kikikik :D), dengan segala kerendahan hati minta maaf sama teman teman yang mungkin selama kita bersama ada luka yang mungkin telah aku buat. Entah itu dari perkataanku, perbuatanku, tingkah laku ku, semuanya. Semoga kalian berkenan memberikan maaf  padaku. Begitu juga aku yang tentu bakal memafkan kalian kalo memang selama ini ada salah ke aku :))

Aku pasti akan merindukan saat saat bersama kalian. Dengan sohib sohib ku 3 idiot, Ariyan, Febry, dan kalian semua teman teman penghuni Alien Class. Ada si jaim Fahmi, si centil Razy, si galau Silmia, si subur Suci, bahkan sampai miss statistician Theresa. *capek nyebutin satu2*

Sukses buat kita semua. Semoga kita bisa raih mimpi kita, harapan kita, dan tak ada satu pun penghalang dalam setiap langkah kita. Aamiin.

Sampai ketemu lagi dipuncak kesuksesan kita masing masing.

Pangeran Statistisi :))

Sabtu, 11 Mei 2013

SPID



Hidup ini ternyata sangat keras. Ya! Sangat keras, bahkan lebih keras dari apa yang tak pernah terpikir olehku. Mungkin setiap orang akan bertanya-tanya kenapa aku melontarkan statement itu seenak jidatku. Tapi aku tak peduli apa kata mereka. Karena aku yakin mereka akan memihak ku jika mereka tau apa yang tersembunyi dibalik kata-kata yang sempat terucap olehku.
 
Hfyuuuhhh...lelah rasanya ketika ternyata aku pun terjebak dalam mimpi yang gelap. Mimpi yang awalnya punya janji, ternyata hanya menjadi sebuah rayuan gombal yang terlupakan. Mungkin ini lah baru yang namanya hidup. Semua tak semanis daun pepaya. Awalnya, aku hanya seorang anak kampung yang punya mimpi yang besar. Mimpi yang indah, dimana memang tak semua orang punya mimpi yang sama. Hingga tiba saatnya aku percaya padamu. Tanpa berfikir panjang, ku letakkan semua mimpiku dihadapanmu. Ku relakan semuanya mengalir bersama sederet peraturanmu. Tapi apa balasanmu?? Apa yang kau berikan?? Bahkan kau hampir menghancurkan separuh dari mimpiku!!

Sampai sekarang aku masih tak mengerti. Aku tetap belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Yang ku tau, kertas ini hanyalah sebuah kertas biasa yang tak tau berapa harganya. Bahkan aku pun tak yakin kertas ini masih ada harganya. Dimana kau tulis permainanmu, kau buat rekayasa dengan tulisan cantikmu. Kini terlihat semakin jelas bahwa permainan kata yang kau buat, itu semakin menyakitkan.

Memang, aku tak bisa menyalahkanmu. Ini hanya karena kecerobohanku yang tak memahami betul sebuah arti, yang terlalu mudah mempercayaimu. Dan ku akui kau memang lebih pengalaman. Ya, tentu pengalaman dalam memanipulasi kata.

Pertama, kau ambil hak kami. Kau ambil harapan kami yang paling besar. Sesuatu yang seharusnya bakal langsung kami dapat, kini kami harus kembali bersusah payah menjadi bagian dari orang-orang yang tentu saja mereka juga akan berupaya keras untuk mendapatkannya. Bukan karena kami takut kalah, kami hanyalah seorang yang menginginkan hak kami yang sudah seharusnya kami dapat. Hak yang seharusnya kami peroleh setelah selesai melaksanakan salah satu kewajiban kami. Ya, tentu dengan peraturan-peraturanmu. Mungkin terlalu munafik jika aku mengatakan disini sangatlah nyaman. Karena faktanya, kau pun buat jantung kami sering berdetak tak karuan. Jadi tolong, berikan hak kamiii !!

Kedua, kau mulai menunda-nunda pendapatan kami. Bahkan ini pun belum jelas antara kau tunda atau kau hapus? Apa kau tak pernah berfikir tentang kami? Apa kau mengharap dari kami mengemis-ngemis kelaparan? Heeiiy..itu juga hak kamii buung !! Jangan kau buat kami semakin terperosok dalam. Tak ada salahnya jika kau mengindahkan kami, kau hargai kami dan kami pun akan menghargaimu.

Aku pun tak paham apakah ini yang terakhir. Atau mungkin baru awal? Tentu aku berharap ini adalah yang terakhir, yang mungkin tak ada yang tau bakal ada hati yang terketuk dan berkenan untuk memberikan semua hak kami.

Dan tentu, aku pun berharap setelah ini apa yang seharusnya cair segera kau cairkan.

Salam hormat dari kami, penuntut hak dan keadilan.

Sekian.